aku manusia

kepada kita tersampir lunglainya kesempurnaan.
itulah jua tiap utas cita ambruk dari tungkai-tungkai awan.
namun, tak lelah asa kita mengait bintang.
jernih kian napaktilas hidup terasa, bila kita beranjak bersama. seiring. segenggam.

dari balik jendela

Kepada ufuk pagi. Bersit harap tlah usai mengecup embun asa.
Cengkerama hening kita akhiri seiring gulir awal hari.
Dan tak jua kita seia menjabar bahagia. Sudahlah, kubersidekap dengan sisa hangatmu.
Gemericik haru, benci dan (mungkin) rindu kan menyisir ke hilir faham fikir.

Jemu sudah aku menafikan kasih, pun tidak menggamit sedih. Benar!
 Biarlah terik surya melantun lirik senandung jejak rasa itu.
Hingga menjulang dikait tungkai awan dan langit pun bersua mega.

Perlahan sekali jarum waktu menghunjuk senja. Ada talu-talu doa, kali ini.
Malam habis sabar dan rebah sejenak di punggung Sinabung.
Secercah suluh akhirnya mempertemukan pandang kita.
Bahwa ilham, taubat, kerling, senyum bahkan c inta. Di sana menyapa dan menanti.
Dari balik jendela.

Media_httpwwwtheecoto_haejf

aku mendekat-Mu, dan berbisik ...

aku, si kerdil, yang menyaput linang sendu bumi. keyakinanku gontai diterpa larung haru bayu. tetaplah di sini. topang kembali daguku yang hilang arah. aku selatan tanpa mega, tanpa swara dan doamu. ayah. ibu.


Media_httpstjevorgsys_igdqw


Digores Ilalang di Medan, pada Desember 27, 2011.

daya tiada

Sendu seruling berbisik dihanyut semilir bayu pagi. Kabut tak jua jenuh membias kerling kita. Terantuk-antuk di buram jendela kaca.
Nanar sadarku, usai sesimpul senyum engkau hembus. Setitik air mata. Diam-diam. Meleleh.

Media_httpfc03deviant_fgape

Digores Ilalang di Medan, pada Januari 2, 2012.

sendu surya

matahari senja perih ditakluk luna malam. Diperasnya awan-awan kota, mencurah rinai. "ini tangisku," sahutnya di sela jarum hujan

----- digoreskan Ilalang. di Medan. November 23, 2011.


Media_httpwallpapergo_cpeeb

kini tiba

duduklah sejenak di sisiku. Sebab, kesempurnaan telah pulas di palungannya. Kita kini saling melengkapi. Ada.

----- digoreskan Ilalang. di Medan. November 23, 2011.

don't let me

don't let me alone. As the sun sets beneath my regret. Never i feel the emptiness cryin aloud. But me keep silent still, staring your last kiss faded by the cloud.

----- digoreskan Ilalang. di Medan. Oktober 18, 2011.

Alone_by_ticketonheavens

di dalam pelukan

di dalam pelukan
pekik hadirku sejenak hening
membiarkan denyut jantungku hanyut dalam timang dan senandung gumam
sebuah bahasa yang kini asing namun kurindu selalu, ibu
setelah dua puluh sembilan tahun lalu, di dalam pelukanmu.

Medan | September 3, 2011

kumohon, dengarlah ...

Di dalam fikir hendak kugenggam katup jemarimu,
dan hening kita saling tertunduk.

Tungkai-tungkai harapan lah yang memangku sadarku.

Ini bukan mimpi, namun impian yang bersenandung bersama gumam doa.

Karena Tuhan kan mendengar, tulismu di balik punggung daun 
yang gugur di senja lalu.

Perlahan, hangat mengalir dari nadi.

--- goresan Ilalang pada Kamis | Juni 23, 2011.

Media_httpfarm6static_gkpfj

maaf

Ilalang,
Aku memohon maafmu
Bila penantian menjadi jeda yang tak terhingga.
Menanti, bukan adegan yang kita hendaki
Sebab kebisuan lah menjadi jawaban bertutur.

Seribu tanya yang dulu digurat dalam helai berduri
telah kupendam di rahim bumi
Tak perlu ia membaca luka dan juga terluka.

Benar, jarum gerimis masih mengusik debu ragu
cercah jawaban yang mengisi kesesakan ini.
Tetapi biarkan saja ia turut menanti.

Ilalang,
Aku memohon maafmu
Bila heningmu terusik oleh tanya ia.
Sebab kebisuan lah menjadi jawaban bertutur.

Tentu, aku akan kembali
Bukan membawa jawab ataupun tanya.
Ini, penantian, bukan kita hendaki.

Media_httpimagespiccs_efbfe
Contributors
Sites I Like