Ibu...
Tatkala kain usang disingkap
Lamat-lamat wanita itu (kembali) menatap
si anak dalam pangkuan
Dihirupnya kening, pipi, hingga bibir
Berbaur-baur bersama polusi, sampah busuk, dan barang dagangan
di tengah pasar
Anakku, lirihnya
dan menahan geli melihat gelinjang kaki
dan binar matanya
"Bermaknanya hidupku,
menantikanmu memanggil aku “ibu”
dan menghembuskan nafas terakhirku di baringanmu."
-- Goresan ilalang: April 1, 2010.
Seusai derai
Dedaunan basah tertunduk berat memunggungi semut api
Di seluruh barisannya tak henti tersua lenguh
“Mencari hunian baru lagi,” sahutnya
menjawab kejap-kejap mata katak dan kawanannya masih bertingkah polah di dalam genang
Burung-burung mendekati ujung pohon
menunggah sisa gerimis menenggelamkan hausnya.
Hujan sendiri, yang telah menemani sepiku
Lalu menyisakan tanya menyelimuti bumi
Apa gerangan hadirnya tidak tergores lagi dalam puisi
Dari bibir beku, aku berkata
“Karena tak ada yang terlihat, terdengar, tercium
untuk digoreskan
seusai derai.”
--- Goresan ilalang: Maret 31, 2010.
di tepi sungai
Menepuk gemerisik air meliuk-liuk serupa lekuk bebatuan.
Percikan di kelopak matamu melinang di lesung pipi
seperti merindu kembali pada arakannya.
Buncahan sungai seperti iri dengan derai tawamu
digelitik satu dua tangkai bunga timbul tenggelam memeluk ranting menuju hilir.
--- Goresan ilalang: Maret 30, 2010.
Pembaringan pengelana
Membisikkan pinta. Mendengar senandungmu, kala membaringkan ragaku
di atas ilalang yang tertekuk lemah dicumbui larik-larik surya dari lubang awan.
Oh, lembayung padang. Biarkanlah aku terlena disini, hingga bulan datang
dan mentari pun tertunduk tersipu, menyisakan ruang binar bintang
menggores-gores kerlipnya di jiwa malam.
--- Goresan ilalang: Maret 26, 2010.
tak bertujuan
kujelajahi dunia maya, dan memungut sampah binari. namun, tak berurai di sel abu-abu.
tersimpan di bata merah hati
kudiamkan angkuh waktu yang bergulir tenang, menenggelamkan saput
pandang di gelombang tiara. dan relung yang tergelitik gerik mata, kuamati di tiap lengah sadarmu. kusimpan dulu kagumku di bata merah hati.
pandang di gelombang tiara. dan relung yang tergelitik gerik mata, kuamati di tiap lengah sadarmu. kusimpan dulu kagumku di bata merah hati.
cermin retak
terkadang, seperti menertawakan diri sendiri.
Ayah
percik memecah kala gerimis menggores-gores bumi
malam dan dingin memeluk raga, menggiring lengan kenang sesekali aku berhenti di lorong sadar, dan menghembuskan uap jenuh di hela jeda, kubisikkan selarik pinta: Ayah, aku merindukanmu.
malam dan dingin memeluk raga, menggiring lengan kenang sesekali aku berhenti di lorong sadar, dan menghembuskan uap jenuh di hela jeda, kubisikkan selarik pinta: Ayah, aku merindukanmu.
rumit
Sayup diantara bilah waktu, adalah gaung tanya
Membelat pikiran dan ucap
Setiap beda dan sama di antara kita.Kita tahu namun malu, tuk mengaku
bahwa detik jarum jam lebih mengiang
daripada tawa dan bungah
yang menghiasi napaktilas kisah.
Membelat pikiran dan ucap
Setiap beda dan sama di antara kita.Kita tahu namun malu, tuk mengaku
bahwa detik jarum jam lebih mengiang
daripada tawa dan bungah
yang menghiasi napaktilas kisah.
puisi di relung hati
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari(Sapardi DD)
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari(Sapardi DD)


