Seusai derai
Dedaunan basah tertunduk berat memunggungi semut api
Di seluruh barisannya tak henti tersua lenguh
“Mencari hunian baru lagi,” sahutnya
menjawab kejap-kejap mata katak dan kawanannya masih bertingkah polah di dalam genang
Burung-burung mendekati ujung pohon
menunggah sisa gerimis menenggelamkan hausnya.
Hujan sendiri, yang telah menemani sepiku
Lalu menyisakan tanya menyelimuti bumi
Apa gerangan hadirnya tidak tergores lagi dalam puisi
Dari bibir beku, aku berkata
“Karena tak ada yang terlihat, terdengar, tercium
untuk digoreskan
seusai derai.”
--- Goresan ilalang: Maret 31, 2010.

Ananta Bangun