terpekur

bukan sekali. tetapi setiap larut dalam alam fikirnya, pengembara membisikkan atau menggoreskan doa di antara gulma yang menguning -- tertindih kemarau -- ingin ia terpekur dalam rahim sang ibu. disebutnya bumi tempatnya membaring sebagai ibu. tempatnya bertutur dalam siang dan malam. meski, kedua jendela waktu itu tak dikenalnya. "semuanya sama. terlihat gelap," tulisnya di samping gores-gores doa sebelumnya.

Media_httpmediamoddbc_edlxn

--- goresan ilalang di Medan. Mei 7, 2011. 
Meta
Share
Sites I Like